Jumat, 08 November 2013

Hukum Bisnis


MERGER DAN AKUISISI
Sebelum melangkah lebih jauh untuk membahas hukum bisnis yang bersangkut-paut dengan masalah merger dan akuisisi ini. Terlebih dahulu kita melihat apa sebenarnya yang dimaksud dengan merger dan akuisisi itu. Dalam dunia ilmu hukum dan bisnis terdapat beberapa istilah yang sering dipergunakan, yaitu sebagai berikut:
v  Istilah Merger
v  Istilah Akuisisi
v  Istilah Konsolidasi
v  Istilah Take Over
v  Istilah LBO dan MBO
Berikut  ini pengertian dari masing-masing istilah tersebut, yaitu sebagai berikut:  
A.    Istilah Merger
Dalam bahasa indonesia istilah “merger” ini sering juga disebut dengan “penggabungan” perusahaan. Dengan istilah merger ini yang dimaksudkan adalah suatu proses hukum untuk meleburnya (fusi) suatu perusahan (biasanya perusahaan yang kurang penting) kedalam perusahaan lain yang lebih penting, sehingga akibatnya perusahaan yang meleburkan diri tersebut menjadi bubar, dengan atau tanpa likuidasi.
Tindakan merger antara perusahaan-perusahaan ini dapat dilukiskan dengan skema berikut ini:
                        SKEMA TENTANG MERGER PERUSAHAAN
                       
                        A                                                                     B
Keterangan:
Ø  (A) perusahaan yng menggabungkan diri, yang setelah proses merger menjadi  lenyap (dengan atau tanpa proses likuidasi)
Ø  (B) perusahaan mitra merger yang tetap eksisi setelah merger
B.     Istilah Akuisisi
Dalam bahasa indonesia istilah akuisisi perusahaan disebut dengan istilah “pengambilalihan”. Yang dimaksudkan adalah mengambil alih kepentingan pengontrol terhadap suatu perusahaan, yang dilakukan biasanya mengambil alih sebagian besar aset-aset perusahaan. Berbeda dengan merger dan konsolidasi dimana hasilnya akan ada perusahaan yang lenyap seelah akuisisi.

                        DIAGRAM TENTANG AKUISISI PERUSAHAAN

                        A                                                                        B
Keterangan:
Ø  (A) perusahaan atau orang yang melakukan akuisisi( pengakuisisi)
Ø  (B) perusahaan yang diambil alih ( perusahaan target)
(A)  Dan (B) tetap eksisi setelah tindakan akuisisi terjadi.


C.     Istilah Konsolidasi
Dalam bahasa indonesia istilah konsolidasi ini sering juga disebut dengan “peleburan” perusahaan. Dengan istilah konsolidasi ini, yang dimaksudkan adalah suatu proses hukum untuk meleburnya (fusi) dua buah perusahaan atau lebih kedalam perusahaan ketiga, yakni perusahaaan lain yang baru dibentuk, sehingga akibatnya kedua perusahaan yang meleburkan diri tersebut menjadi bubar.

                        SKEMA TENTANG KONSOLIDASI PERUSAHAAN

                        A                                                                     B




                                                            C                    
Keterangan diagram:
Ø  (A) perusahaan asal yang setelah konsolidasi menjadi lenyap
Ø  (B) perusahaan asal juga yang setelah konsolidasi menjadi lenyap
Ø  (C) perusahaan yang baru terbentuk akibat dari konsolidasi yang setelah konsolidasinya tetap eksis


D.    Istilah Take Over
Istilah Take Over sebenarnya merupakan istilah lain dari akuisisi. Hanya saja, karena begitu populernya istilah “hostile take over” (akuisisi bermusuhan), maka istilah take over mempunyai konotasi sabagai akuisisi yang bermusuhan, mengandung paksaan secara halus atau yang dilakukan dengan trik-trik bisnis yang lihai.

E.     Istilah LBO dan MBO
LBO adalah singkatan dari Leveraged Buy  Outs yang merupakan suatu variasi dari akuisisi atau tae over, yang dilkukan dengan teknik-teknik dan tujuan tertentu. Tujuan dilakukannya LBO adalah dengan membeli suatau perusahaan target, perusahaan target tersebut di pernak dan dibenahi untuk kemudian setelah perusahaan target menjadi bagus, perusahaan target tersebut dijual kembali kepada pihak lain, dimana pihak menjual akan mendapatkan keuntungan finansial karenanya.
Dalam suatu transaksi LBO biaya dan harga pembelian tidaklah berasal dari kocek pihak pembeli/pengakuisisi, tetapi berasal dari pinjaman pihak luar (penyandang dana). Dipinjam dengan cara menerbitkan obligasi oleh perusahaan target. Obligasi mana diberikan dengan obligasi yang tinggi,sehingga sering juga disebut obligasi sampah (junk bonds)
MBO adalah singkatan dari Management Buy Outs memiliki transaksi dengan prinsip teknik-teknik LBO. Hanya saja, dalam deal-deal MBO pihak manajemen atau perusahaan yang terlibat dalam melaukan transaksi atau membeli saham-saham dari perusahaan yang dipimpnnya atau perusahaan dalam satu group dengan perusahaan yang dipimpinnya.

                                   









SKEMA TENTANG TRANSAKSI LBO/MBO

CORPORATE RAIDERS                                PERUSAHAAN TARGET


                                                                       
                                                                        Penerbitan bonds (2)


                                    Pembayaran hutang (4)


                                                            Pendanaan (3)

            PENYANDANG DANA                                 JUNK BONDS



MODEL-MODEL MERGER DAN AKUISISI

            Dalam praktek, banyak model ditemui merger dan akuisisi ini, diantara terpenting adalah sebagai berikut:
1.      Model-model merger
a.       Merger horizontal
Merger horizontal adalah merger antara 2 atau lebih perusahaan yang bergerak dalam bidang bisnis yang sama atau serupa
b.      Merger vertikal
Merger vertikal adalah merger dintara 2 atau lebih perusahaan yang bergerak dalam satu aliran produksi terhadap produk yang sama
c.       Merger kon generik
Merger kon generik adalah merger diantara 2 atau lebih perusahaan yang saling berhubungan,tetapi bukan terhadap produk yang sama seperti pada merger horizontal dan merger vertikal
d.      Merger konglomerat
Merger konglomerat adalah merger diantara 2 atau llebih perusahaan yang satu sama lain tidak ada keterkaitan usaha sama sekali.
e.       Merger dengan likuidasi
Merger dengan likuidasi adalah merger diantara 2 atau lebih perusahaan dimana perusahaan yang lenyap kemudian dilikuidasi, untuk kemudian dibereskan.
f.        Merger tanpa likuidasi
Merger tanpa lkuidasi adalah meger diantara 2 atau lebih perusahaan yang lenyap tidak dilikuidas, tetapi hak,kewajiban,kontrak dan lain-lain beralih secara langsung(secara hukum) kepada perusahaan yang eksisi setelah merger
g.       Merger sederhana
Merger sederhana adalah bentuk prototipe dari merger, yakni merupakan merger diantara 2 atau lebih perusahaan yang hak dan kewajibannya dialihkan langsung kepada perusahaan yang eksis setelah merger. Jadi tanpa dilakukan likuidasi
h.       Merger praktis
Merger praktis adalah merger dintara dua atau lebih perusahaan dimana dalam deal merger tersebut tidak dilakukan pembayaran tunai terhadap harga saham perusahaan target. Tetapi ditukar dengan saham pemerger.
i.         Merger segitiga
Merger segitiga adalah diantara dua atau lebih perusahaan dimana perusahaaan target merger dileburkan kedalam perusahaan dari perusahaan pemerger.
j.        Merger segitiga terbalik
Merger segi tiga terbalik adalah merger diantara dua atau lebih perusahaan dimana anak perusahaan pemerger dileburkan kedalam perusahaan target merger.
k.      Merger dengan metode pembelian
Merger dengan metode pembelian adalah merger diantara dua atau lebih perusahaan dengan memakai metode akuntansi yang didasari kepada pembelian berdasarkan harga pasar dalam menilai perusahaan target
l.         Merger dengan metode pooling of internet
Merger dengan metode pooling of internet adalah merger antara dua atau lebih perusahaan dengan memakai metode akuntansi yang didasarkan kepada nilai buku dalam menilai perusahaan target. Dalam hal ini balance sheet diantara kedua perusahaan tersebut digabung.


2.      Model-model Akuisisi
a.       Akuisisi horizontal
Akuisis horizontal adalah akuisisi diantara suatu perusahaan atau seseorang dengan 1 atau lebih perusahaan diman akedua perusahaan tersebut mempunyai bidang bisnis yang sama atu serupa
b.      Akuisisi vertikal
Akuisisi vertikal adalah akuisisi diantara dua perusahaan atau dua perusahaan tersebut masih dalam satu mata rantai peoduksi, yakni antara perusahaan hulu dengan hilir
c.       Akuisisi Kon generik
Akuisis kon generik adalah akuisisi di antara suatu perusahan atau seorang dengan 1 atau lebih perusahaan lain dimana kedua perusahaan tersebut saling berhubungan. Tetapi bukan terhadap produk yang sama seperti pada akuisisi horizontal dan bukan pula antara perusahaan hulu dengan hilir seperti dalam akuisisi vertikal.
d.      Akuisisi konglomerat
Akuisisi konglomerat adalah akuisisi diantara dua atau lebih perusahaan yang bisnisnya sama sekali tidak terkait, baik secara vertikal maupun secara horizontal.
e.       Akuisisi eksternal
Akuisisi eksternal adalah merupakan akuisisi yang terjadi antara dua atau lebih perusahaan dari kelompok perusahaan yang berbeda.
f.        Akuisisi internal
Akuisisi internal merupakan akuisisi yang terjadi antara dua atau lebih perusahaan dalam kelompok perusahaan yang sama.
g.       Akuisisi saham
Akuisisi saham adalah akuisis yang terjadi antara dua atau lebih perusahaan dimana yang diakuisisi adalah sebagian besar atau seluruh saham dari perusahaan target.
h.       Akuisisi assets
Akuisisi assets adalah akuisisi yang terjadi antara dua atau lebih perusahaan dimana yang di akuisisi/dibeli adalah sebagian besar atau seluruh aset dari perusahaan target.


i.         Akuisisi kegitan usaha
Akuisisi kegiatan usaha merupakan akuisisi yang terjadi antara dua atau lebih perusahaan dimana yang di akuisisi dari perusahaan target adalah hanya kegiatan usahanya termasuk jaringan bisnis, alat produksi, hak milik intelektual dan lain-lain
j.        Freezeouts
Freezeouts adalah akuisisi yang terjadi antara dua atau lebih perusahaan, dimana setelah pihak pengakuisisi menguasai dan mengendalikan perusahaan target, pihak pemegang saham minoritas dipaksa keluar dari perusahaan target tersebut.
k.      Squeezeouts
Mirip dengan freezeouts, akan tetapi berbeda denga squeezeouts pihak pemegang saham minoritas tidak dikeluarkan secara paksa, tetapi dibuat sedemikian rupa sehingga pemegang saham minoritas tersebut tidak betah lagi diperusahaan target dan akhirnya keluar sendiri.
l.         Akuisisi strategis
Akuisisi ini merupakan akuisisi diantara dua atau lebih perusahaan dengan motif meningkatkan produktivitas produk target.
m.     Akuisisi finansial
Akuisisi finansial merupakan akuisisi diantara dua atau lebih perusahaan dengan motif mendapatkan keuntungan finansial semata-mata dalam waktu sesingkat-singkatnya.
n.       LBO
LBO adalah suatu variasi dari akuisisi atau take over dilakukan dengan teknik-teknik dan tujuan tertentu.
o.      MBO
Transaksi MBO juga pada prinsipnya menggunakan teknik-teknik LBO.






DASAR HUKUM MERGER DAN AKUISISI
Yang merupakan dasar hukum utama bagi merger dan akuisisi adalah sebagai berikut:
1.      Dasar hukun perseroan, yakni berupa undang-undang perseroan terbatas dan peraturan pelaksanaannya.
2.      Dasr hukuk kontraktual, yakni berupa kitap undang-undang hukum perdata tentang perikatan
3.      Dasar hukum stastus perusahaan, yakni berupa ketentuan dibidang pasar modal, penanaman modal asing dan badan urusan milik negara.
4.      Dasar hukum tentang konsekuensi merger, yakni berupa undang-undang antimonopoli, perburuhan, pensiun, peranahan,likuidasi dan subrogrsi.
5.      Dasar hukum pembidangan usaha, yakni berupa perundang-undangan dibidang perbankan, perdagangan, industri, jasa dan lain-lain

LARANGAN-LARANGAN DALAM MERGER DAN AKUISISI
Telah disebutkan bahwa merger tidak boleh menimbulkan monopoli atau menimbulkan persaingan tidak sehat dipasar. Karena jika ini terjadi, maka yang akan dirugikan adalah baik masyarakat konsumen atau pihat tersaing secara tidak sehat tersebut. Pihak-pihak lainnya yang cenderung dirugika karena tindaakan merger dan akuisisi tersebut adalah sebagai berikut:
1.      Salah satu atau kedua perusahaan yang melakukan merger dan akuisisi
2.      Pihak pemegang saham minoritas dalam perusahaan-perusahaan tersebut
3.      Pihak karyawan
4.      Pihak kreditur

           
 

Sabtu, 02 November 2013

Akuntansi Biaya


KONSEP DASAR AKUNTANSI BIAYA
A. Pendahuluan
            Akuntansi biaya merupakan bagian yang integral dengan financial accounting.
Akuntansi biaya adalah salah satu cabang akuntansi yang merupakan alat manajemen dalam memonitor dan merekam transaksi biaya secara sistematis, serta
menyajikannya informasi biaya dalam bentuk laporan biaya. Biaya (cost) berbeda
dengan beban (expense), cost adalah pengorbanan ekonomis yang dikeluarkan
untuk memperoleh barang dan jasa, sedangkan beban (expense) adalah expired cost
yaitu pengorbanan yang diperlukan atau dikeluarkan untuk merealisasi hasil, beban
ini dikaitkan dengan revenue pada periode yang berjalan.
            Pengorbanan yang tidak ada hubungannya dengan perolehan aktiva, barang atau jasa dan juga tidak ada hubungannya dengan realisasi hasil penjualan, maka tidak digolongkan sebagai cost ataupun expense tetapi digolongkan sebagai loss.

B. Manfaat Akuntansi Biaya
            Tujuan atau manfaat akuntansi biaya adalah menyediakan salah satu
informasi yang diperlukan oleh manajemen dalam mengelola perusahaan, yaitu
untuk :
1. Perencanaan dan Pengendalian Laba. Akuntansi biaya menyediakan informasi
atau data biaya masa lalu yang diperlukan untuk menyusun perencanaan, dan
selanjutnya atas dasar perencanaan tersebut, biaya dapat dikendalikan dan
akhirnya pengendalian dapat dipakai sebagai umpan balik untuk perbaikan
dimasa yang akan datang.
2. Penentuan Harga Pokok Produk atau Jasa. Penetapan harga pokok akan dapat
membantu dalam : (a) penilaian persediaan baik persediaan barang jadi maupun
barang dalam proses, (b) penetapan harga jual terutama harga jual yang
didasarkan kontrak, walaupun tidak selamanya penentuan harga jual
berdasarkan harga pokok, (c) penetapan laba.
3. Pengambilan Keputusan oleh Manajemen.

C. Klasifikasi Biaya
            Akuntansi biaya bertujuan untuk menyajikan informasi biaya yang digunakan
untuk berbagai tujuan, sehingga penggolongan biaya juga didasarkan atas
disesuaikan dengan tujuan tersebut.
Ada beberapa cara yang dapat digunakan untuk menggolongkan biaya diantaranya :
1. Berdasarkan Fungsi Pokok Perusahaan
a. Factory Cost (Biaya Produksi)
1. Biaya Bahan Baku (Direct Material Cost)
2. Biaya Tenaga Kerja Langsung (Direct Labor Cost)
3. Biaya Tidak Langsung (Factory Overhead)
b. Commercial Expense (Operating Expense)
1. Marketing and Selling Expense
2. General & Administration Expense

2. Berdasarkan Periode Akuntansi
a. Capital Expenditure (Pengeluaran Modal). Pengeluaran ini akan memberi
manfaat pada beberapa periode akuntansi. Jenis pengeluaran ini
dikapitalisirdan dicantumkan sebagai harga perolehan. Suatu pengeluaran
dikelompokkan sebagai capital expenditure jika pengeluaran ini memberi
manfaat lebih dari satu periode akuntansi, jumlahnya relatif besar, dan
pengeluaran ini sifatnya tidak rutin.
b. Revenue Expenditure (Pengeluaran Penghasilan).
Pengeluaran ini akan memberi manfaat pada periode akuntansi dimana pengeluaran ini terjadi. Pengeluaran ini menjadi beban pada periode tersebut, dan dicantumkan
dalam income statement. Suatu pengeluaran dikelompokkan sebagai revenue    expenditure jika pengeluaran tersebut memberi manfaat pada periode
terjadinya pengeluaran tersebut, jumlahnya relatif kecil, dan umumnya
pengeluaran ini sifatnya rutin.
3. Berdasarkan Pengaruh Manajemen Terhadap Biaya
a. Biaya Terkendali (Controllable Cost). Adalah biaya yang secara langsung
dapat dipengaruhi oleh seorang manajer tingkatan tertentu dalam jangka
waktu tertentu.
c. Biaya Tidak Terkendali (Uncontrollable Cost). Adalah biaya yang tidak dapat
dipengaruhi oleh seorang manajer atau pejabat tingkatan tertentu.
4. Karakteristik Biaya Dihubungkan Dengan Keluarannya
a. Biaya Engineered. Adalah elemen biaya yang mempunyai hubungan phisik
yang eksplisit dengan output.
b. Biaya Discretionary. Biaya ini disebut juga managed cost atau programmed
cost adalah semua biaya yang tidak mempunyai hubungan yang akurat
dengan output.
d. Biaya Commited atau biaya kapasitas. Adalah semua biaya yang terjadi
dalam rangka untuk mempertahankan kapasitas atau kemampuan organisasi
dalam kegiatan produksi, pemasaran dan administrasi.
5. Pengaruh Perubahan Volume Kegiatan Terhadap Biaya
a. Biaya Tetap. Yaitu biaya yang jumlah tidak dipengaruhi oleh perubahan
volume kegiatan sampai pada tingkatan tertentu. Biaya tetap perunit berubah
berbanding terbalik dengan perubahan volume kegiatan.
b. Biaya Variabel. Biaya variabel mengasumsikan hubungan linear antara biaya
aktifitas tersebut. Biaya variabel yaitu biaya yang jumlah totalnya berubah
secara sebanding dengan perubahan volume kegiatan, semakin besar volume
kegiatan maka semakin besar pula jumlah total biaya variabel.
c. Biaya Semi Variabel. Yaitu biaya dimana jumlah totalnya berubah sesuai
dengan perubahan volume kegiatan, akan tetapi sifat perubahannya tidak
sebanding/proporsional.
6. Berdasarkan Objek yang dibiayainya
a. Biaya Langsung. Biaya yang terjadi atau manfaatnya dapat diidentifikasi
kepada objek atau pusat biaya tertentu.
b. Biaya Tidak Langsung. Biaya yang terjadi atau manfaatnya tidak dapat
diidentifikasi pada objek atau pusat biaya tertentu, atau biaya yang
manfaatnya dinikmati oleh beberapa objek atau pusat biaya.

D. Sistem Akuntansi Biaya
Sistem akuntansi biaya (cost system) dapat dikelompokkan menjadi dua
sistem yaitu :
1. Actual Cost System (Sistem Harga Pokok Sesungguhnya). Yaitu sistem
pembebanan harga pokok kepada produk atau pesanan yang dihasilkan sesuai
dengan harga pokok yang sesungguhnya dinikmati. Pada sistem ini, harga pokok
produksi baru dapat dihitung pada akhir periode setelah biaya sesungguhnya
dikumpulkan.
2. Standard Cost System (Sistem Harga Pokok Standar). Yaitu sistem pembebanan
harga pokok kepada produk atau pesanan yang dihasilkan sebesar harga pokok
yang telah ditentukan/ditaksir sebelum suatu produk atau pesanan dikerjakan.

E. Sistem Pengumpulan Harga Pokok
1. Job Order Cost. Yaitu suatu metode pengumpulan harga pokok produk yang
dikumpulkan untuk setiap pesanan atau kontrak. Jadi setiap ada pesanan
mempunyai harga pokok tersendiri yang dibuat dalam job cost sheet. Pada
metode ini, produksi dilakukan untuk memenuhi pesanan pelanggan.
2. Process Cost. Yaitu metode pengumpulan harga pokok produk dimana biaya
dikumpulkan untuk setiap satuan waktu. Pada metode ini, proses produksi
diperusahaan dilaksanakan secara terus menerus, barang yang dihasilkan
homogen, dan perhitungan harga pokok produksi didasarkan atas waktu. Pada
metode ini, produksi dilakukan untuk memenuhi stock.

F. Manfaat Biaya Perunit
1. Perusahaan Manufaktur
            Sistem akuntansi biaya memiliki tujuan pengukuran dan pembebanan biaya
sehingga biaya perunit dari suatu produk dapat ditentukan. Informasi biaya perunit
adalah sangat penting bagi perusahaan manufaktur untuk penilaian persediaan,
penentuan laba, dan pengambilan keputusan lainnya. Pengungkapan biaya
persediaan dan penentuan laba adalah kebutuhan pelaporan keuangan yang dihadapi
setiap perusahaan pada setiap akhir periode.
            Untuk menentukan biaya perunit, maka total biaya yang digunakan
tergantung tujuan informasi tersebut. Perusahaan dapat menggunakan biaya
produksi, atau biaya variabel, atau biaya produksi ditambah biaya non produksi.
Untuk pembuatan laporan keuangan untuk pihak eksternal, maka informasi biaya
perunit diperoleh dari total biaya produksi, sedangkan untuk pengambilan keputusan
untuk menerima atau menolak pesanan khusus, dalam kondisi perusahaan
beroperasi dibawah kapasitas produksi, maka informasi biaya yang dibutuhkan
adalah informasi biaya variabel.
2. Perusahaan Jasa
            Perusahaan jasa juga memerlukan informasi biaya perunit. Pada dasarnya
untuk menghitung biaya perunit antara perusahaan jasa maupun perusahaan
manufaktur adalah sama. Pertama sekali, perusahaan jasa yang disediakan dan
mengidentifikasi total biaya untuk unit jasa yang disediakan.
            Perusahaan jasa maupun perusahaan manufaktur menggunakan data biaya
dengan tujuan yang sama, yaitu untuk menentukan profitabilitas, kelayakan untuk
memperkenalkan layanan baru, membuat keputusan harga jual dan lainnya, hanya
perusahaan jasa tidak memerlukan data biaya untuk menentukan nilai persediaan,
karena jasa tidak menghasilkan produk fisik.

G. Kalkulasi Biaya Produk Tradisional
            Kalkulasi biaya produk tradisional hanya membebankan biaya produksi pada
produk. Pembebanan biaya utama keproduk tidak memiliki kesulitan, karena dapat
menggunakan penelusuran langsung atau penelusuran penggerak yang sangat
akurat. Tetapi sebaliknya, biaya overhead memiliki masalah dalam pembebanan
biaya ke produk, karena hubungan antara masukan dan keluaran tidak dapat
diobservasi secara fisik.
            Dalam sistem biaya tradisional, untuk membebankan biaya ke produk
digunakan penggerak aktifitas tingkat unit (unit level drivers), karena ini merupakan
faktor yang menyebabkan perubahan biaya sebagai akibat perubahan unit yang
diproduksi. Contoh penggerak tingkat unit yang secara umum digunakan untuk
membebankan overhead meliputi :
1. Unit yang diproduksi
2. Jam tenaga kerja langsung
3. Tenaga kerja langsung (rupiah)
4. Jam mesin
5. Bahan langsung
            Setelah mengidentifikasi penggerak (driver) tingkat unit, lalu memprediksi
tingkat keluaran aktifitas yang diukur oleh penggerak tersebut, yaitu apakah
berdasarkan aktifitas aktual yang diharapkan (expected activity level) dan aktifitas
normal (normal activity level). Expected activity level adalah output aktivitas yang
diharapkan dicapai oleh perusahaan pada tahun yang akan datang, sedangkan
normal activity level adalah output aktivitas rata-rata yang merupakan pengalaman
perusahaan dalam jangka panjang. Aktivitas normal mempunyai keunggulan berupa
penggunaan tingkat aktifitas yang sama dari tahun ketahun, sehingga pembebanan
overhead ke produk tidak begitu berfluktuasi.

H. Keterbatasan Sistem Akuntansi Biaya
            Tarif pabrik menyeluruh dan tarif departemental telah digunakan beberapa
dekade dan terus digunakan secara sukses. Namun pada beberapa situasi tarif
tersebut menimbulkan distorsi yang dapat membuat stress perusahaan yang
berproduksi dalam lingkungan produksi canggih (advanced manufacturing
environment).
            Gejala-gejala dari sistem biaya yang ketinggalan jaman diantaranya
sebagai berikut :
1. Hasil dari penawaran sulit dijelaskan
2. Harga pesaing nampak lebih rendah sehingga kelihatan tidak masuk akal.
3. Produk-produk yang sulit diproduksi menunjukkan laba yang tinggi.
4. Manajer operasional ingin menghentikan produk-produk yang kelihatan
menguntungkan.
5. Marjin laba sulit dijelaskan
6. Pelanggan tidak mengeluh atas biaya naiknya harga
7. Departemen akuntansi menghabiskan banyak waktu untuk memberi data
biaya bagi proyek khusus.
8. Biaya produk berubah karena perubahan peraturan pelaporan



Metode Penentuan Harga Pokok Produksi


Metode penentuan harga pokok produksi adalah cara untuk memperhitungkan unsur-unsur biaya kedalam harga pokok produksi. Dalam memperhitungkan unsur-unsur biaya ke dalam harga pokok produksi, terdapat dua pendekatan yaitu full costing dan variabel costing.
  1. Full Costing
Full costing merupakan metode penentuan harga pokok produksi yang memperhitungkan semua unsur biaya produksi ke dalam harga pokok produksi yang terdiri dari biaya bahan baku, biaya tenaga kerja langsung dan biaya overhead pabrik baik yang berperilaku variabel maupun tetap.
Menurut LM Samryn, full costing adalah : “Full costing adalah metode penentuan harga pokok yang memperhitungkan semua biaya produksi yang terdiri dari biaya bahan baku, biaya tenaga kerja, dan overhead tanpa memperhatikan perilakunya.”
Pendekatan full costing yang biasa dikenal sebagai pendekatan tradisional menghasilkan laporan laba rugi dimana biaya-biaya di organisir dan sajikan berdasarkan fungsi-fungsi produksi, administrasi dan penjualan. Laporan laba rugi yang dihasilkan dari pendekatan ini banyak digunakan untuk memenuhi pihak luar perusahaan, oleh karena itu sistematikanya  harus disesuaikan dengan prinsip akuntansi yang berlaku umum untuk menjamin informasi yang tersaji dalam laporan tersebut.
2.       Variabel Costing
Variabel costing merupakkan metode penentuan harga pokok produksi yang hanya memperhitungkan biaya produksi yang berperilaku variabel ke dalam harga pokok produksi yang terdiri dari biaya bahan baku, biaya tenaga kerja langsung dan biaya overhead pabrik variabel.
Dalam pendekatan ini biaya-biaya yang diperhitungkan sebagai harga pokok adalah biaya produksi variabel yang terdiri dari biaya bahan baku, biaya tenaga kerja langsung dan biaya overhead pabrik variabel. Biaya-biaya produksi tetap dikelompokkan sebagai biaya periodik bersama-sama dengan biaya tetap non produksi.
Menurut Mas’ud Machfoed variabel costing adalah “ Suatu metode penentuan harga pokok dimana biaya produksi variabel saja yang dibebankan sebagai bagian dari harga pokok.”
Pendekatan variabel costing di kenal sebagai contribution approach merupakan suatu format laporan laba rugi yang mengelompokkan biaya berdasarkan perilaku biaya dimana biaya-biaya dipisahkan menurut kategori biaya variabel dan biaya tetap dan tidak dipisahkan menurut fungsi-fungsi produksi, administrasi dan penjualan.
Dalam pendekatan ini biaya-biaya berubah sejalan dengan perubahan out put yang diperlakukan sebagai elemen harga pokok produk. Laporan laba rugi yang dihasilkan dari pendekatan ini banyak digunakan untuk memenuhi kebutuhan pihak internal oleh karena itu tidak harus disesuaikan dengan prinsip akuntansi yang berlaku umum.













                                                Penentuan Harga Pokok Produksi
Dengan Pendekatan Variabel Costing
Biaya bahan baku                                                       xxx
Biaya tenaga kerja langsung                                        xxx
Biaya overhead pabrik variabel                                   xxx +
           Harga pokok produksi variabel                                    xxx
Biaya pemasaran variabel                                          xxx
Biaya administrasi dan umum variabel                        xxx +
 Biaya komersil                                                                       xxx +
            Total biaya variabel                                                     xxx
Biaya overhead pabrik tetap                                       xxx
Biaya pemasaran tetap                                               xxx
Biaya admistrasi dan umum tetap                                xxx +       
              Total biaya tetap                                                        xxx +  
Total harga pokok produk                                                        xxx                                                                                               

Perbedaan Full Costing dan Variabel Costing
Perbedaan pokok antara metode full costing dan variabel costing sebetulnya terletak pada perlakuan biaya tetap produksi tidak langsung. Dalam metode full costing dimasukkan unsur biaya produksi karena masih berhubungan dengan pembuatan produk berdasar tarif (budget), sehingga apabila produksi sesungguhnya berbeda dengan budgetnya maka akan timbul kekurangan atau kelebihan pembebanan. Tetapi pada variabel costing memperlakukan biaya produksi tidak langsung tetap bukan sebagai unsur harga pokok produksi, tetapi lebih tepat dimasukkan sebagai biaya periodik, yaitu dengan membebankan seluruhnya ke periode dimana biaya tersebut dikeluarkan sehingga dalam variabel costing tidak terdapat pembebanan lebih atau kurang.
Adapun unsur biaya dalam metode full costing terdiri dari biaya bahan baku, biaya tenaga kerja langsung dan biaya overhead pabrik baik yang sifatnya tetap maupun variabel. Sedangkan unsur biaya dalam metode variabel costing terdiri dari biaya bahan baku, biaya tenaga kerja langsung dan biaya overhead pabrik yang sifatnya variabel saja dan tidak termasuk biaya overhead pabrik tetap.

Akibat perbedaan tersebut mengakibatkan timbulnya perbedaan lain yaitu :
  1. Dalam metode full costing, perhitungan harga pokok produksi dan penyajian laporan laba rugi didasarkan pendekatan “fungsi”. Sehingga apa yang disebut sebagai biaya produksi  adalah seluruh biaya yang berhubungan dengan fungsi produksi, baik langsung maupun tidak langsung, tetap maupun variabel. Dalam metode variabel costing, menggunakan pendekatan “tingkah laku”, artinya perhitungan harga pokok dan penyajian dalam laba rugi didasarkan atas tingkah laku biaya. Biaya produksi dibebani biaya variabel saja, dan biaya tetap dianggap bukan biaya produksi.
  2. Dalam metode full costing, biaya periode diartikan sebagai biaya yang tidak berhubungan dengan biaya produksi, dan biaya ini dikeluarkan dalam rangka mempertahankan kapasitas yang diharapkan akan dicapai perusahaan, dengan kata lain biaya periode adalah biaya operasi. Dalam metode variabel costing, yang dimaksud dengan biaya periode adalah biaya yang setiap periode harus tetap dikeluarkan atau dibebankan tanpa dipengaruhi perubahan kapasitas kegiatan. Dengan kata lain biaya periode adalah biaya tetap, baik produksi maupun operasi.
  3. Menurut metode full costing, biaya overhead tetap diperhitungkan dalam harga pokok, sedangkan dalam variabel costing biaya tersebut diperlakukan sebagai biaya periodik. Oleh karena itu saat produk atau jasa yang bersangkutan terjual, biaya tersebut masih melekat pada persediaan produk atau jasa. Sedangkan dalam variabel costing, biaya tersebut langsung diakui sebagai biaya pada saat terjadinya.
  4. Jika biaya overhead pabrik dibebankan kepada produk atau jasa berdasarkan tarif yang ditentukan dimuka dan jumlahnya berbeda dengan biaya overhead pabrik yang sesungguhnya maka selisihnya dapat berupa pembebanan overhead pabrik berlebihan (over-applied factory overhead). Menurut metode full costing, selisih tersebut dapat diperlakukan sebagai penambah atau pengurang harga pokok yang belum laku dijual (harga pokok persediaan).
  5. Dalam metode full costing, perhitungan laba rugi menggunakan istilah laba kotor (gross profit), yaitu kelebihan penjualan atas harga pokok penjualan.
  6. Dalam variabel costing, menggunakan istilah marjin kontribusi (contribution margin), yaitu kelebihan penjualan dari biaya-biaya variabel.
Beberapa hal yang perlu diperhatikan dari perbedaan laba rugi dalam metode full costing dengan metode variable costing adalah :
  1. Dalam metode full costing, dapat terjadi penundaan sebagian biaya overhead pabrik tetap pada periode berjalan ke periode berikutnya bila tidak semua produk pada periode yang sama.
  2. Dalam metode variable costing seluruh biaya tetap overhead pabrik  telah diperlakukan sebagai beban pada periode berjalan, sehingga tidak terdapat bagian biaya overhead pada tahun berjalan yang dibebankan kepada tahun berikutnya.
  3. Jumlah persediaan akhir dalam metode variable costing lebih rendah dibanding metode full costing. Alasannya adalah dalam variable costing hanya biaya produksi variabel yang dapat diperhitungkan sebagai biaya produksi.
  4. Laporan laba rugi full costing tidak membedakan antara biaya tetap dan biaya variabel, sehingga tidak cukup memadai untuk analisis hubungan biaya volume dan laba (CVP)  dalam rangka perencanaan dan pengendalian.
Dalam praktiknya, variable costing tidak dapat digunakan secara eksternal untuk kepentingan pelaporan keuangan kepada masyarakat umum atau tujuan perpajakan.